Kab.Bandung, REVOLUSI co.id – Seorang pria ditemukan tewas di aliran Sungai Cirasea atau Leuwiabah, Desa Pakutandang, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Selasa (18/11/2025) sekitar pukul 05.30 WIB. Penemuan jenazah tersebut pertama kali diketahui oleh seorang warga bernama Rizki saat sedang membuang sampah di sekitar lokasi.
Menurut keterangan Rizki, ia melihat tubuh pria dalam posisi telungkup di atas bebatuan sungai. Ia kemudian berteriak meminta pertolongan sehingga warga, termasuk saksi lain bernama Yayat, berdatangan ke lokasi. Temuan itu lalu dilaporkan kepada Kepala Dusun Pakutandang dan diteruskan kepada Bhabinkamtibmas Desa Pakutandang, Aipda Rizal.
Menerima laporan tersebut, Polsek Ciparay bergerak cepat. Kapolsek Ciparay IPTU Ilmansyah, S.E., M.H., bersama Kanit Reskrim IPDA Hikmat, S.H., Pamapta II Polresta Bandung IPDA Wawan H., Tim Inafis Polresta Bandung, serta Piket Bawas AIPTU Irvan Herlambang turun langsung ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Tim Inafis kemudian mengevakuasi jenazah dan melakukan pemeriksaan luar. Dari hasil pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Namun pihak keluarga menolak dilakukan visum maupun autopsi. Mereka menyatakan telah mengikhlaskan kepergian korban dan menandatangani surat resmi penolakan autopsi.
Istri korban mengungkapkan bahwa suaminya meninggalkan rumah pada Senin (17/11/2025) sekitar pukul 11.30 WIB untuk berjalan-jalan. Korban diketahui memiliki riwayat penyakit jantung dan stroke dalam tiga tahun terakhir, serta menjalani pengobatan jalan di RSUD Welas Asih.
Korban yang merupakan ASN juga dikabarkan telah mengajukan pensiun dini karena kondisi kesehatannya. Sang istri menyebut korban sudah terbiasa berjalan-jalan seorang diri untuk menghilangkan rasa jenuh akibat sakit yang dideritanya.
Keluarga sempat mencari korban ke berbagai tempat karena tidak kunjung pulang hingga malam hari. Namun pencarian tersebut tidak membuahkan hasil hingga akhirnya warga menemukan jenazah pada pagi hari.
Kapolsek Ciparay IPTU Ilmansyah membenarkan bahwa lokasi penemuan jenazah tidak jauh dari rumah korban. Pihak kepolisian juga telah menawarkan proses visum atau autopsi untuk memastikan penyebab kematian.
“Kami sudah memberikan opsi pemeriksaan lebih lanjut, namun keluarga menolak dan menganggap ini sebagai musibah serta takdir. Kami hanya melakukan pemeriksaan luar dan pendokumentasian sesuai prosedur,” ujarnya.
Keluarga juga meminta agar proses pemakaman segera dilakukan. Dengan adanya penolakan autopsi, pihak kepolisian tidak melanjutkan penyelidikan lebih jauh. (GS)



























