Agam, REVOLUSI.co.id-Kabar duka menyelimuti ranah Minangkabau. Salah satu putra terbaiknya, Angku Yusbir Datuak Parpatiah—atau yang lebih akrab disapa Yus Dt. Parpatiah—sang Rajo Angek Garang, telah berpulang ke rahmatullah pada Sabtu, 28 Maret 2026, pukul 16.30 WIB.
Maestro seni tutur dan budayawan legendaris ini menghembuskan napas terakhirnya di usia 86 tahun, bertempat di Rumah Tuo Suku Sikumbang, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.
Lahir pada 7 April 1939, Yus Dt. Parpatiah bukan sekadar pemangku adat. Beliau adalah ikon kebudayaan yang berhasil menjembatani nilai-nilai adat kuno dengan realitas sosial modern melalui media Radio. Sejak era 80-an, karya-karyanya dalam bentuk sandiwara radio dan rekaman kaset pituah telah menjadi konsumsi rohani bagi masyarakat Minang, baik di kampung halaman maupun di perantauan.
Gaya bicaranya yang lugas, penuh kiasan (petatah-petitih), namun tetap jenaka, membuat pesan-pesan moral yang disampaikannya mudah diterima oleh semua lapisan generasi. Beliau diakui sebagai sosok yang berhasil menjaga “ruh” adat Minangkabau agar tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan di tengah gempuran zaman.
Kepergian beliau memicu gelombang duka mendalam di media sosial dan ruang publik. Banyak tokoh masyarakat menyebut wafatnya Angku Yus sebagai “kehilangan satu generasi penutur nilai.” Beliau adalah perpustakaan hidup yang mengajarkan bahwa menjadi modern tidak harus kehilangan identitas sebagai urang awak.
Meskipun raganya telah tiada, warisan intelektual dan spiritual beliau tetap abadi dalam ratusan karya rekaman dan ingatan kolektif masyarakat Minang.
”Gajah mati maninggakan gading, harimau mati maninggakan belang, manusia mati maninggakan jaso. Jaso pituah Angku akan taruih hiduik di sanubari kami.”
Keluarga besar dan masyarakat Nagari Sungai Batang memohon doa agar almarhum diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT, diampuni segala khilafnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
Selamat jalan, Angku. Terima kasih atas segala bimbingan dan pituahmu.(Sutan Wijaya)



























