• Home
  • Ekonomi
  • Impor Satu-Satunya Jalan Tekan Harga Daging Sapi

Impor Satu-Satunya Jalan Tekan Harga Daging Sapi

Kamis, 09 Juni 2016 10:11:00
BAGIKAN:
Ilustrasi Impor Sapi
JAKARTA-Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong menuturkan tingginya harga kebutuhan pokok di pasaran dapat ditekan dengan cara menambah pasokan barang. Termasuk dalam hal ini adalah pasokan harga sapi yang langka di pasaran sehingga membuat harganya melambung. 
 
"Jadi peluang untuk semua peternak, semua rumah potong hewan, semua penyedia di harga tertinggi, tentunya dalam selisih itu satu-satunya jalan adalah impor," ujar Tom Lembong di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu, 8 Juni 2016.
 
Menurut Thomas. Kebutuhan daging masyarakat Indonesia per bulan adalah sebesar 70 ribu ton. Dan di bulan ramadhan berpeluang naik sekitar 150 ton. Dan saat ini pemerintah baru memiliki pasokan sekitar 100 ton. "Perkiraan kami mungkin kekurangannya antara 20-50 ton," kata Thomas.
 
Thomas membantah apabila kebijakan untuk impor daging hanya diserahkan kepada swasta, karena korporasi Kementerian BUMN juga terlibat untuk melaksanakan impor agar kebutuhan tercukupi. Sebelumnya pemerintah juga sempat mendapat protes atas melonjaknya harga sapi, yang dikhawatirkan merupakan spekulan atau mafia yang memanfaatkan situasi dengan memotong akses distribusi daging lokal. Namun Lembong menolak tudingan itu. 
 
"Menurut data dan informasi yang diterima mungkin di titik tertentu itu bisa terjadi, tapi secara agregat, secara umum, harga tinggi di mana-mana. Bahkan yang dikhawatirkan adalah kerusakan struktural industri peternakan sapi, karena kalau terjadi lonjakan yang begitu dahsyat, sapi indukan pun ikut dibantai," kata Thomas.
 
Padahal, menurut Thomas, persiapan pemerintah untuk mencegah tingginya harga pasar di bulan Ramadan ini telah dilakukan sejak November 2015. Namun, pemerintah kecolongan karena hampir semua kebutuhan pokok harganya melonjak. 
 
"Itulah perbedaan antara perencanaan dengan implementasi. Eksekusi kami khusus di sapi tidak optimal. Tapi saya cukup gembira persiapan kami soal beras optimal. Tahun lalu, diputuskan impor 1,5 juta ton beras, sekarang stok beras 2,1 juta ton. Dengan demikian, stok mencukupi untuk operasi besar-besaran di beras," ucapnya.(red/c)
 
Sumber: Tempo
BAGIKAN:
KOMENTAR