Bandung, REVOLUSI.co.id- Bantuan Program Indonesia Pintar ( PIP ) salah satu program pemerintah untuk menunjang pendidikan bagi masyarakat menengah ke bawah, namun terkadang bantuan PIP sering kali dijadikan ruang untuk panggung politik dan ruang korupsi berjamaah.
Semrawutnya bantuan PIP, tidak serta merta menjadikan PIP mengubah arah pendidikan ke arah yang lebih baik, namun kenyataannya PIP dijadikan sebuah ajang mencari untuk bagi oknum penyelenggara pendidikan.
Salah satu nya terjadi di Madrasah Aliyah Al-Fakriyah yang berlokasi di Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung, dimana sekolah tersebut mengakui telah memotong bantuan PIP sebesar 50% dari total bantuan yang seharusnya di terima oleh siswa, karena menurut nya itu telah sesuai dengan juknis.
Untuk MA AL- Fikriyah Pacet sendiri meminta kepada orang agar bantuan PIP tahun anggaran 2025/2026 harus dikembalikan ke sekolah sebesar 50% dengan alasan akan dikembalikan lagi ke kas negara.
Seperti yang diungkapkan oleh salah satu orang tua siswa MA AL- Fikriyah Pacet, saat dimintai keterangannya, mengatakan," saya selaku orang tua siswa untuk bantuan PIP tahun anggaran 2025/2026, harus mengembalikan sebesar 50% dari total Rp. 3.600.000,-. Selain itu saya pun diminta lagi sebesar Rp. 100.000,- tanpa alasan yang jelas,"ungkap nya.
"Saya pun sangat prihatin terhadap pihak sekolah, yang saat ditanyakan kenapa harus dikembalikan lagi ke sekolah sebesar Rp. 1.800.000,-, dan pihak sekolah dengan nada menantang, silahkan adukan ke media, tidak takut untuk dipublikasikan," kata orang tua siswa menirukan bicara salah satu dari pihak sekolah.
Selain itu juga orang tua siswa pun sempat mendatangi dan menanyakan kepada salah satu tokoh di yayasan Al- Fakriyah, dan menurutnya," Potongan itu sesuai juknis dari Bank dan andai media mau koreksi kesalahan sekolah harus balance, dan kenapa orang tua siswa tidak di koreksi, kami pihak sekolah tidak pernah memungut uang pembangunan dan sekolah ini tidak pernah mendapat bantuan pemerintah," Jelas orang tua siswa menirukan pembicaraan salah satu tokoh di sekolah itu. (ASEP BOM)