• Home
  • Opini
  • Jangan Kendalikan Pemimpin Wahai Sang Oknum

OPINI

Jangan Kendalikan Pemimpin Wahai Sang Oknum

Selasa, 06 Juni 2017 18:46:00
BAGIKAN:
Defri Caniago
Emmm, lagi-lagi ini hanya lanjutan dari sebuah "coretan yang belum tuntas". Sekali lagi, tidak perlu ada yang meradang, marah dan benci. Sebab, ini hanya coretan tentang keprihatinan masyarakat terhadap sosok yang memimpinnya. Bahasa "dikendalikan" beleh saja betul, atau barangkali salah. Tidak pasti juga.
 
Kalau memang boleh berandai-andai, sekiranya pemimpin diduga tengah dikendalikan oleh oknum-oknum tertentu, sudah pasti kekhawatiran besar terjadi ditengah masyarakat. Bayangkan, sosok yang dibanggakan, diandalkan dan dihormati masyarakat, terbuai dengan bujuk rayu sang "oknum" yang piawai dan lihai dalam menyusun strategi "berkemas", tanpa mau lagi mendengar keluh kesah masyarakat yang dipimpim secara keseluruhan.
 
Ehhh, ini pemimpin yang mana?. Tampaknya tidak etis menyebutkan pemimpin yang mana. Hanya saja, ini kemungkinan hanya sebagian pemimpin saja yang berbuat demikian. Namun perlu diingat, terlepas dari itu semua, pasti semua juga sepakat, kalau kapasitas pemimpin sepertinya masih teruji dan tidak perlu diragukan lagi. Karena faktanya memang seperti itu. Lihat saja, hingga sekarang dengan berbagai program yang telah dijalankan, sering terlihat pada acara membuka, meresmikan dan berkunjung. Begitu juga sebaliknya di tengah masyarakat yang telah dilakukan.
 
Juga terlihat, kapasitas dan pengalaman pemimpin memang saban hari tentu semakin teruji saja. Yaaa, itu agaknya tidak terlepas juga dari jam terbang, loyalitas dan gesekan halus berpengaruh nan menguntungkan yang dibisikan oleh sang oknum tertentu yang menjadi pertimbangan dan diamini oleh sang pemimpin. Berbicara pertimbangan, wajar saja, karena pemimpin memang perlu para pembisik pesan yang dipercaya dan bisa menjaga rahasia dan bisa dihandalkan.
 
Tetapi, perlu juga diingat seharusnya, tatkala pemimpin hanya mendengar aspirasi dari oknum tertentu dan golongan tertentu saja atau pembisik ulung semata, maka sudah pasti masyarakat secara keseluruhan merasa terciderai dengan sikap seperti itu.
 
Sebab, kebanyakan kata masyarakat, seorang pemimpin bukan hanya milik oknum tertentu dan golongan, tapi ketika pucuk pimpinan telah diamanahkan oleh masyarakat dengan simbol sumpah jabatan, maka pemimpin harus mampu mengayomi, memperhatikan kehidupan masyarakat dan memimpin masyarakat secara keseluruhan, tanpa harus membuang orang-orang yang dari awal memang berniat membangun daerah bersama-sama.
 
Dan yang dikhawatirkan tadi, saat ini masyarakat bisa merasakan, kalau anggapan pemimpin diduga dikendalikan oleh oknum tertentu mulai terdengar dimana-mana. Asumsi semakin merajalela dan sulit dimengerti. Jelas, muaranya pemimpin terlalu memberikan kepercayaan penuh pada oknum yang dipercaya dan dianggap masih yunior tapi lihai.
 
Ya, ujung-ujungnya secara langsung dan tidak langsung, masyarakat menyuarakan rasa kekecewaan, kalau pemimpin memang tidak mau perduli lagi. Dan barangkali keinginan masyarakat, saat inilah waktunya pemimpin mendengar aspirasi masyarakat secara keseluruhan tanpa terkecuali, bukan terpengaruh dari kendali oknum yang tidak bertanggungjawab demi menjaga kepentingan.***
 
"Coretan yang belum tuntas"
Ditulis Oleh: Defri Caniago
(Jurnalis, Alumnus Pekanbaru Journalist Center)

 

BAGIKAN:
KOMENTAR