Kab. Bandung, REVOLUSI.co.id– Program Makan Bergizi Gratis ( MBG ) yang berada di wilayah Majalaya, telah melakukan kerjasama dengan beberapa sekolah dari mulai SD, SMP, SMA dan SMK, kini telah melaksanakan program MBG kepada 2.893 siswa, dari total sasaran sekitar 3.200.
Dengan baru terpenuhinya sebanyak 2.893 siswa itu, dikarena siswa SMP, SMA dan SMK sedang melaksanakan kegiatan ujian serta akan menghadapi masa libur sekolah, maka dari itu capaian angka 2.893 ini adalah siswa yang masih bersekolah dan tidak menghadapi ujian.
Kalau pertama kali program MBG di wilayah Majalaya yaitu awal Januari sekitar 1795, dan sekarang meningkat lebih banyak dan melayani beberapa sekolah. Setelah dua minggu awal , mulai naik ke 2.955, sekitar 2.925.
Menurut Gita Selaku Ketua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), saat dihubungi mengatakan,”Untuk SD itu awalnya kita ada di sekolah-sekolah.Satu SMA dan satu SMP, lalu ada penambahan jumlah sasaran untuk SMK, jadi untuk saat ini yang kami cover adalah sekolah 8 SD, 1 SMP, 1 SMA, dan 1 SMK. Kedepannya insya Allah kami akan Menambahkan ke sasaran ibu hamil, ibu menyusui sama balita Namun itu baru di perencanaan,” Jelas Ketua SPPG.
“Sementara itu untuk penggajian karyawan, disesuaikan dengan kekuatan menyesuaikan dengan saran, yang diberikan di minima 70 tapi memang yang sering menjadi pembanding adalah yang di sini 100 ribu pas, karena kan seperti yang kita anggarkan yang didapatkan ketika sasaran kita berbeda dengan SPG lain juga akan berbeda begitu,” Ungkapnya.
“Makanya kita juga mempertimbangkan beberapa hal terkait pengkajian, yang pertama dari sasaran, kalau sasarannya misalkan SPG A 3000, SPG B 4000, berarti kan beban kerjaannya juga akan berbeda. Itu juga salah satu yang kami pertimbangkan terhadap pengkajian, tapi untuk gaji kita sudah menyesuaikan,”Terang Gita.
Memang belum ada ketentuan terkait gaji harus berapa namun kemarin ada saran, Dan sudah kami lakukan sudah berjalan Semenjak bulan Puasa Jadi untuk penggajian karyawan itu diserahkan kepada dapur MBG sendiri.
“Betul, karena kan gaji karyawan diambil dari dana operasional dapur. Ini sudah satu global jadi kan kalau di MBG itu ada tiga dana, yaitu dana bahan baku, dan bahan makanan. Jadi itu terpisah, tidak boleh diganggu, ada juga biaya operasional karyawan, ini diambil dari operasional,” Jelasnya.
Operasional itu yang termasuk bagi karyawan seperti transport, bensin, dan lain-lain, Ini tidak terpisah , misalkan gaji karyawan, gaji karyawan operasional, operasional global.
Dugaan Adanya Kelebihan Bayar
Sementara itu Ketua SPPG Gita saat ditanya masalah adanya dugaan kelebihan bayar, dirinya menjelaskan,”Sebetulnya itu adalah masalah internal dan Alhamdulillah sudah terselesaikan, sudah lunas juga, bukan kelebihan pembayaran.Kita kan mengajukan RAB ya Pak, gimana dana itu cair sesuai RAB,” Jelasnya.
“Misalkan kita belanja bahan baku, dianggarkan Rp10.000, tapi kan kita belanja pasar banyak, harga yang kita sudah susun.
Satu pos itu misalkan Rp10.000 pas, tapi kan kalau kita belanja pasar banyak berarti harga akan ada diskon,”
“Jadi belanja itu kita add cost, dimana akan berarti ada sisa anggaran.Jadi bukan kelebihan bayar, namun ada sisa anggaran, dan sisa anggaran ini akan diakumulasikan oleh kami RAB berikutnya, dan akan dipakai untuk belanja di periode berikutnya,” Terang Ketua SPPG Gita.
Gita pun mencontohkan, misalkan saya mengajukan untuk minggu ini adalah 100 juta, berarti anggaran belanja bahan baku saya itu di 100 juta untuk perencanaan.
Tapi ternyata realisasinya setelah dihitung kita membeli bahan baku itu hanya 80 juta.
Ada sisa 20 juta.
“Nah 20 juta ini dianggarkan ke RAB berikutnya, RAB berikutnya berarti misalkan 100 juta lagi. Kita punya sisa 20 juta.Berarti saya mengajukan dana sebanyak 80 juta.Itu sudah clear sebetulnya Jelas Gita. ( RED )






















