Bobroknya PWI Bukti Organisasi Tidak  Tahu Hukum

- Jurnalis

Kamis, 13 Maret 2025 - 16:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, REVOLUSI.co.id–  Polemik dualisme kepengurusan dalam tubuh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) terus menjadi perbincangan hangat, Kamis (13/3/2025).

Dua kubu yang mengklaim kepemimpinan sah hingga kini belum menemukan titik terang. Namun, yang menjadi pertanyaan besar adalah: mengapa PWI tidak membawa kasus ini ke ranah hukum untuk penyelesaian?

Konflik semacam ini bukan kali pertama terjadi dalam organisasi besar di Indonesia. Biasanya, penyelesaian melalui jalur hukum menjadi langkah terakhir guna memastikan legitimasi kepengurusan.

Namun, hingga saat ini, PWI tampaknya memilih untuk tidak menempuh jalur tersebut.

Takut Legitimasi Dipertanyakan?

Para pengamat hukum menilai, salah satu alasan utama mengapa PWI enggan membawa masalah ini ke pengadilan adalah risiko kehilangan legitimasi bagi salah satu kubu. Jika konflik ini masuk ke meja hijau, maka pengadilan akan menggali bukti-bukti berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PWI, serta melihat proses pemilihan kepengurusan mana yang lebih sah.

“Kalau sudah masuk ke pengadilan, bisa jadi ada fakta-fakta yang tidak menguntungkan bagi salah satu pihak. Ini bisa menjadi bumerang, terutama jika salah satu kubu merasa tidak memiliki dasar hukum yang kuat,” kata [Nama Pakar Hukum], seorang pengamat hukum organisasi.

Faktor Kepentingan Internal dan Politik

Selain itu, faktor kepentingan internal juga disebut-sebut sebagai alasan utama PWI lebih memilih membiarkan dualisme ini menggantung. Sebagai organisasi besar yang memiliki relasi luas, ada banyak kepentingan yang bermain di dalamnya.

“Kalau PWI sampai membawa ini ke pengadilan, maka ada risiko intervensi dari pihak luar yang bisa memperumit situasi. Bisa jadi ada pihak-pihak yang ingin mengendalikan PWI dari luar,” ujar seorang sumber internal PWI yang enggan disebutkan namanya.

Takut Efek Domino?

Jika kasus ini dibawa ke pengadilan, dampaknya bisa lebih besar dari yang diperkirakan. Beberapa kemungkinan yang bisa terjadi antara lain:

Pergolakan di internal organisasi, terutama di tingkat daerah yang mungkin memiliki kepentingan berbeda.

Pemecatan atau pembekuan anggota yang dianggap mendukung salah satu kubu, yang dapat memperburuk perpecahan di tubuh organisasi.

Penurunan kepercayaan publik terhadap PWI, karena organisasi wartawan yang seharusnya menjadi contoh keterbukaan justru gagal menyelesaikan konflik internalnya sendiri.

Beberapa pihak menduga PWI lebih memilih menunggu campur tangan Dewan Pers atau pemerintah untuk menjadi penengah dalam konflik ini. Langkah ini dianggap lebih aman dibandingkan membawa konflik ke pengadilan yang bisa memakan waktu bertahun-tahun.

“Kalau masuk ke pengadilan, bisa lama dan melelahkan. Mungkin PWI lebih memilih mediasi atau kongres luar biasa sebagai jalan tengah,” ujar [Nama Pakar Media], pengamat media dan jurnalisme.

Hingga saat ini, dualisme kepengurusan PWI masih menjadi tanda tanya besar. Dengan tidak adanya langkah hukum yang jelas, konflik ini justru semakin memperburuk citra organisasi. Jika dibiarkan berlarut-larut, PWI bisa kehilangan kepercayaan dari anggotanya sendiri dan masyarakat luas.

Apakah PWI akan tetap membiarkan konflik ini tanpa penyelesaian hukum? Ataukah akan ada langkah tegas dalam waktu dekat? Semua masih menjadi misteri. Yang jelas, menunda penyelesaian hanya akan memperpanjang krisis di tubuh organisasi wartawan tertua di Indonesia ini. ( Red )

Berita Terkait

Beranikah 1.574 Pejabat Negara Sumbangkan Gaji Rp.50 juta/Orang/Bulan Untuk Rakyat
Tes Urine untuk Polisi, Separah Inikah Lingkaran Narkoba di Tubuh POLRI
Kapolres Bima Kota Terduga Kepemilikan Narkotika, Memasuki Gelar Perkara di Bareskrim POLRI
Gurita Narkoba di Jantung Kepolisian dan Urgensi Revolusi Moralitas Polri
Kriminalisasi Korban Pencurian di Pancur Batu, Potret Buram Hukum Yang Tidak Tegak
2000 Anak Keracunan Makanan Bergizi Gratis, Kepala BGN Harus Diperiksa
Klarifikasi Pemberitaan, Dandim 0505 Jakarta Timur Kunjungi Sekretariat Nasional PPWI
Diduga Catut Nama Kasubdit Tipiter Polda Jabar, Lakukan Teror  Kepada Media Di Karawang

Berita Terkait

Kamis, 12 Maret 2026 - 13:38 WIB

BTS Solokanjeruk Diduga  Tanpa PBG Tanpa AMDAL Pekerja Tanpa Safety, Dan Pemerintah Tutup Mata

Jumat, 6 Maret 2026 - 16:31 WIB

Bulan Suci Ramadhan 1447 H, Menjadi Momentum Pipin Arifin Jadi Camat Ibun Definitif

Kamis, 5 Maret 2026 - 21:51 WIB

Kejati Jabar Mulai Bergerak! Dugaan Korupsi Rp83 Miliar Proyek Revit Sekolah di Tasikmalaya Memanas

Rabu, 25 Februari 2026 - 16:30 WIB

Ketua DPRD Kab. Bandung, Reses Menjadi Ajang Silaturahmi Dengan Masyarakat dan  Kader

Selasa, 24 Februari 2026 - 20:39 WIB

Anggota DPRD Kab. Bandung dari Fraksi Nasdem Toni Permana, S.H., Gelar reses masa sidang II tahun 2026 di Desa Bumiwangi

Selasa, 24 Februari 2026 - 15:11 WIB

Ketua DPRD Kab. Bandung Hj. Renie Gelar Reses di  GOR Al- Mufasir Rancabali Kec. paseh

Senin, 23 Februari 2026 - 19:30 WIB

Perkuat Soliditas, Korwil II MPC Pemuda Pancasila Cilacap Serahkan Sertifikat Diklat KOTI Mahatidana 2026

Senin, 23 Februari 2026 - 18:50 WIB

Anggota DPRD Kab. Bandung, Dari Fraksi Demokrat Raindra  Laksanakan Reses Masa Sidang II di Desa Cigentur

Berita Terbaru